Laman

Senin, 03 September 2012

Tentang ajaran sesat Saksi Yehova/Yehuwa

Ajaran Sesat Saksi Yehova/Yehuwa


Banyak anggota gereja di Indonesia yang bertanya: siapakah saksi Yehova itu? Pertanyaan ini ada karena banyak orang Kristen di Indonesia yang pernah berjumpa serta berdialog dengan mereka. Saksi Yehova dikenal dengan kegiatan mereka yang sering menyebarkan doktrin-doktrin aliran mereka itu.

Dilihat dari luar, Organisasi saksi Yehova sepertinya dapat diartikan sebagai salah satu aliran Kristen. Mereka membaca Alkitab dan menghormati Jesus Kristus.
Akan tetapi apabila diselidiki lebih lanjut, gerakan tersebut lebih tepat disebut sebagai suatu bidat dalam agama Kristen. Mereka tidak menerima Jesus sebagai penjelmaan Tuhan Allah, menolak paham Trinitas/Tritunggal, serta banyak lagi ajaran saksi Yehova yang secara umum ditolak oleh umat Kristen (termasuk umat Katolik).



Bidat saksi Yehova tidak bisa dianggap remeh. Diantara semua bidat yang berlatar belakang kristen di seluruh dunia, saksi Yehova inilah salah satunya yang paling cepat bertumbuh besar.
Apakah yang menyebabkan saksi Yehova bertumbuh pesat? Ada beberapa sebabnya.
1. Saksi Yehova tidak membedakan antara kaum pendeta dengan kaum awam. Tiap anggota dilatih menjadi penyebar ajaran mereka.
2. Saksi Yehova mengaku sebagai pelajar Firman Allah. Maka itu, banyak orang berlatar belakang kristen (juga yang berlatar belakang agama lain) tertarik untuk mempelajari kitab suci.
3. Ada beberapa ajaran saksi Yehova yang menarik perhatian orang. Misalnya saksi Yehova menolak ke-Ilahian Jesus, menolak paham Trinitas/Tritunggal. Orang yang berlatar belakang Islam, atau orang yang menganggap paham Trinitas terlalu rumit untuk diterima, mungkin akan menyambut baik ajaran saksi Yehova .
4. Penganut saksi Yehova diberikan indoktrinasi, atau suatu rentetan pengajaran dan pelatihan, yang cukup meyakinkan. Sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang kuat akan keyakinannya itu.

Oleh karena itu, ada sebagian orang kristen yang menolak untuk bersaksi kepada saksi Yehovah. Bahkan ada dikalangan penginjil dan pendeta yang menolak untuk menginjili mereka. Sayangnya, justru sikap demikian yang membantu pertumbuhan bidat yang menyesatkan ini.

Ingat: Tiap penganut saksi Yehova--- sama seperti manusia lainnya, adalah manusia yang berharga di hadapan Allah! Sangat berharganya sehingga Jesus Kristus mati untuk mereka! Kita orang kristen juga punya kewajiban untuk bersaksi kepada mereka.

Kadang-kadang ada saksi Yehova yang seolah-olah menyombongkan diri, karena ada tokoh-tokoh Kristen yang menolak bercakap-cakap dengan mereka. Saksi Yehova menganggap bahwa mereka sedang dianiaya oleh dunia ini, ketika orang Kristen menjauhi mereka.

Kita sebagai orang kristen:
  1. Tiap orang kristen--- tidak hanya pendeta, diberikan Amanat Agung Tuhan Jesus: "Kamu akan menjadi saksi-Ku" (Kis 1:8)
  2. Mari kita meningkatkan usaha kita dalam belajar dan mengajar Firman Tuhan. Jangan sampai penganut bidat justru yang lebih giat daripada kita, orang kristen. 
  3. Mari kita mempelajari soal-soal doktrin, dan tidak menganggap hal itu hanya urusan para Theolog saja. Jika kita rajin belajar, maka kita akan menemukan bahwa doktrin-doktrin saksi Yehova sesungguhnya tidak lebih sederhana dan tidak lebih mudah diterima, daripada ajaran-ajaran kristen umumnya. 
  4. Mari kita mempersiapkan diri sebaik mungkin. Sehingga kita memiliki iman yang teguh dan memiliki pengetahuan tentang Firman Tuhan yang baik. Sehingga kita dapat menjadi saksi Kristus.



Berikut ini adalah 4 ayat yang sering dipakai oleh Saksi Yehova untuk menyerang keilahian Yesus dan disertai tanggapan kaum Fundamental. Memang masih ada ayat-ayat lain yang mereka pakai, tetapi tempat hanya mengijinkan empat pembahasan. Ayat-ayat yang serupa dapat dijawab dengan metode yang sama.

I. Lukas 18:19 “Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.”
Kelompok Saksi Yehova senang sekali menggunakan ayat ini untuk mengklaim bahwa Yesus sendiri tidak menganggap diriNya Allah. Nah, di sini kita melihat inkonsistensi dari para Saksi. Bagaimana kalau kita menunjukkan kepada mereka ayat-ayat lain yang menjelaskan bahwa Yesus adalah Allah? Ambil contoh I Yohanes 5:20. Di dalam ayat itu jelas-jelas dikatakan bahwa Yesus adalah Allah yang benar. Seharusnya satu ayat ini saja sudah cukup untuk menyelesaikan perdebatan. Tetapi tidak demikian adanya karena kebutaan rohani. Para SY (Saksi Yehova) tetap bersikukuh bahwa setiap kali Yesus disebut Allah dalam Alkitab, yang dimaksud bukanlah Allah yang benar, tetapi “seorang allah.” Jadi menurut kaum SY, Yesus adalah allah, tetapi bukan Allah.

Tetapi, ketika menghadapi Lukas 18:19, mereka segera berseru, “Aha! Yesus mengaku bahwa ia bukan Allah yang benar.” Lihat betapa piciknya! Jika ada ayat yang menyatakan Yesus itu Allah, mereka mengatakan bahwa “Allah” yang dimaksud bukanlah Allah yang benar. Tetapi, ketika menghadapi ayat tersebut di atas, mereka mengklaim bahwa yang dimaksud disini adalah Allah yang benar. Dengan standar ganda seperti ini, manusia dapat menciptakan doktrin apa saja yang ia kehendaki, dan berpura-pura bahwa Alkitab mendukungnya.

Tetapi, benarkah bahwa dalam Lukas 18:19 Yesus mengaku bukan Allah? Sebenarnya tidak demikian. Para Saksi Yehova sengaja tidak menjelaskan maksud dari perkataan Yesus yang sesungguhnya sesuai dengan konteks. Pada waktu itu Yesus didatangi oleh seorang muda yang kaya raya. Orang kaya ini ingin mencari pembenaran dari Yesus, dan bertanya tentang jalan ke surga pada Yesus. Jelas orang kaya ini adalah seorang yang tidak percaya, karena Yesus menyayangkan pada akhir percakapan bahwa uang yang banyak yang dimiliki oleh anak muda itu telah menghalangi dia masuk kerajaan surga. Nah, jadi ada seorang yang belum percaya mendatangi Yesus, dan menyapaNya, “Guru yang baik.” Yesus, alih-alih menyatakan diri bukan Allah, justru pada kesempatan itu ingin mengetes anak muda tersebut. "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” Maksud Yesus, jika engkau tidak percaya Aku Allah, mengapa menyebut Aku baik? Di sini, justru Yesus mengharapkan orang muda tersebut tersentak dan mengakui bahwa Yesus memang pantas disebut baik, karena Ia adalah Allah. Jadi, kita lihat, perikop ini justru mendukung keilahian Yesus. Yesus selalu sadar bahwa Ia memang Allah. Berulang kali Ia menunjukkannya, seperti pada saat ia mengatakan bahwa “Aku dan Bapa adalah satu,” saat Ia memberi pengampunan dosa, dll. Kaum SY juga suatu hari akan mengaku bahwa Yesus adalah Allah, karena suatu hari semua lidah akan mengaku dan semua lutut akan bertelut.

II. Yohanes 14:28 “sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”
Ayat ini berpotensi menimbulkan kekacauan jika tidak disertai dengan pengertian akan
Allah dalam Alkitab adalah Allah yang satu sekaligus tiga. Allah yang terdiri dari tiga pribadi, Bapa, Putra dan Roh Kudus, yang adalah pribadi yang berbeda, tetapi satu adanya. Apakah ini sulit untuk dimengerti? Mungkin. Tetapi, Allah tidak perlu memenuhi tuntutan intelektual manusia, dan justru Allah tidak mungkin dimengerti sepenuhnya oleh manusia. Sama seperti manusia tidak dapat menjelaskan kelahiran perawan, kebangkitan dari dunia orang mati, lima roti memberi makan lima ribu orang, dsb, maka manusia tidak perlu menuntut bahwa pribadi Allah dapat ia mengerti seratus persen. Toh banyak hal dalam alam yang tidak dimengerti, tetapi diterima sebagai kebenaran. Contoh yang sangat mirip adalah cahaya. Belakangan, para ilmuwan menemukan bahwa cahaya memiliki tiga sifat, yaitu sifat partikel, sifat gelombang dan sifat quantum. Sebenarnya, ketiga sifat ini eksklusif satu dengan yang lainnya, tetapi herannya ketiganya satu di dalam cahaya. Tentu ini bukanlah analogi yang sempurna untuk Allah, tetapi dapat menunjukkan bahwa manusia memang tidak mengerti segala sesuatu, dan tidak perlu meragukan apa yang sudah jelas di dalam Alkitab.
Berkaitan dengan Allah Tritunggal, mereka adalah pribadi yang berbeda tetapi satu. Dalam rencana penyelamatan, telah ditentukan bahwa Allah Anak akan merendahkan diriNya (Fil. 2:6-7 kenosis dalam bahasa Yunani; Ibrani 2:68) dan mengambil rupa manusia. Pada saat Allah Putra berada dalam rupa manusia, Ia berada dalam posisi yang lebih rendah daripada Allah Bapa. Hal ini bukan karena Ia memang lebih rendah (Fil. 2:6-7 menjelaskan bahwa Ia pada awalnya setara dengan Bapa), tetapi karena Ia sengaja merendahkan diri. Tetapi, pada hakekatnya Ia tetaplah satu esensi dengan Bapa, oleh sebab itu Ia mengatakan di tempat lain bahwa Ia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30).
Dengan menggabung-gabungkan beberapa ayat Alkitab, kita telah mendapatkan penjelasan yang sangat logis, alkitabiah, dan cocok untuk permasalahan yang ditimbulkan oleh kaum SY atas Yohanes 14:28. Yesus sedang berbicara dalam kemanusiaanNya. KemanusiaanNya penting untuk menyelamatkan manusia, tetapi keilahianNya tidak kalah penting. Dan barang siapa hendak beroleh selamat, harus percaya pada Yesus yang adalah Allah menjelma menjadi manusia, termasuk kaum SY.

III. Wahyu 3:14 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah”
Dengan mengesampingkan berbagai ayat yang mendukung keilahian Yesus, SY justru sangat ahli dalam mencari dan memakai ayat-ayat yang “seolah-olah” menyatakan bahwa Yesus bukan Allah. Salah satu yang suka mereka pakai adalah ayat ini, yang mereka klaim membuktikan bahwa Yesus adalah salah satu ciptaan Allah, dan bukan Allah itu sendiri. Benarkah demikian?
Jika kita sekilas saja membaca kitab Wahyu, maka kita akan mendapatkan gambaran tentang Yesus yang jauh berbeda dari apa yang para SY ingin kita percayai. Bahkan dalam pasal 1 ayat 8, Yesus berkata bahwa Ia adalah “Alfa dan Omega ...yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, yang Mahakuasa.” Kalimat ini adalah klaim akan pre-eksistensi, bahwa Yesus tidak pernah diciptakan dan telah eksis sejak kekekalan lampau bersama Allah Bapa. Doktrin serupa kita temui di berbagai bagian lain Alkitab (misal Yoh. 1:1). Dalam Wahyu 2:8, hal yang sama kembali diserukan. Rasul Yohanes tentu tidak akan mengatakan bahwa Yesus diciptakan dalam 3:14, ketika diseluruh kitab Wahyu lainnya Yesus digambarkan sebagai ilahi.

Kunci untuk mengerti ayat ini adalah kesadaran bahwa kata “permulaan” tidak harus berarti sebagai bagian dari. Kata “permulaan” ini berasal dari bahasa Yunani arkhe. Studi kata ini menunjukkan bahwa arkhe dapat memiliki pengertian sebagai agen yang memulai, atau dalam bahasa Inggrisnya originator. Dalam pengertian yang demikian, Wahyu 3:14 konsisten dengan seluruh bagian Alkitab lainnya dalam menegaskan bahwa Yesus adalah pencipta langit dan bumi, permulaan dari ciptaan Allah, yaitu oknum yang memulai penciptaan, yang menyokongnya hari ini, dan yang akan menghancurkannya satu hari nanti.

IV. Amsal 8:22 “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.”
Masih dalam topik cipta mencipta, orang-orang yang tidak mengakui keilahian Yesus, mulai dari Arian pada abad-abad awal, hingga SY pada hari ini, sering memakai Amsal pasal 8 untuk “membuktikan” bahwa Yesus diciptakan. Sebenarnya Amsal pasal 8 sama sekali tidak menyinggung nama Yesus, tetapi berbicara mengenai hikmat. Kaum SY mengklaim bahwa Hikmat di sini adalah Yesus. Dengan cara demikian, mereka mengatakan bahwa Yesus diciptakan.
Pengamatan yang lebih cermat terhadap perikop ini, disertai dengan pengetahuan akan bahasa Ibrani yang cukup, menyingkapkan bahwa kebenarannya tidaklah demikian.

Pertama-tama, dalam sastra, gaya bahasa personifikasi sering sekali dipakai. Angin dapat berbicara, pohon melambai-lambai, bulan tersenyum, dan lain sebagainya adalah bentuk personifikasi dari hal-hal yang sebenarnya bukanlah pribadi. Demikian juga, Amsal pasal 8 menerapkan gaya bahasa personifikasi. Hikmat tentulah bukan pribadi, tetapi dipersonifikasikan sedemikan rupa. Inti pengajaran pasal 8 adalah pentingnya hikmat.
Apakah Hikmat itu adalah Yesus? Para penulis Alkitab memberikan kepastian bahwa Yesus memang memiliki kegenapan hikmat (Ibr. 1:3; dsb). Dan, karena Yesus memiliki segala hikmat, maka banyak hal dalam Amsal pasal 8 dapat dikatakan benar bagi Yesus. Tetapi, sama sekali tidak ada keharusan untuk menggantikan setiap kata “hikmat” dalam pasal ini dengan Yesus. Hikmat pada dasarnya adalah suatu sifat, bahkan salah satu sifat dasar Allah, sebagaimana yang ingin dijelaskan dalam pasal ini juga. Sedangkan Yesus adalah pribadi, sehingga tidaklah mungkin untuk membuktikan penciptaan Yesus melalui perikop ini.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah kata “menciptakan” di ayat 22 yang menjadi sorotan kita. Kata ini berasal dari bahasa Ibraniqanah. Kata ini memiliki dua arti, yaitu “menciptakan” dan “memiliki.” Hampir semua Alkitab terjemahan lama memakai kata “memiliki” di sini. Mengapa? Karena hikmat tidak mungkin diciptakan. Hikmat adalah sifat Allah, sama seperti kasih, suci dan adil. Apakah Allah menciptakan kasih? Tentu tidak. Siapapun yang menggunakan ayat-ayat ini untuik mengklaim bahwa “hikmat” diciptakan, berarti mengklaim pula bahwa pada mulanya Allah tidak berhikmat sehingga Ia menciptakan hikmat, agar Ia menjadi pintar. Hal ini bukan saja suatu penghujatan besar, tetapi juga adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Agak kurang hikmat?***
***dr. Steven E. Liauw, M.Div., D.R.E


Sumber: Berbagai Situs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar